FF ~ Jangan

“Jangan”

 

“Aku menulis adalah permintaannya. Dia bilang agar aku punya uang. Sukses. Kaya. Bahagia. Memang aku ttahu dengan uang aku bisa bahagia. Tapi apa bahagia hanya berupa uang? Dan satu. Kenapa dia malah pergi? Konyol!”

 

***

Bogor, 12 Oktober 2009

 

Mereka bercerita lewat mata. Menepikan sejuta kendaraan yang melintas bersama sekumpulan gagak yang pindah ke sarang. Senja sudah lewat. Titik balik matahari menyapa. Dia tersipu oleh kepedihan.

“Aku harus pergi,” ungkapnya. Dan yang berada di sisinya menoleh—akhirnya.

“Bagaimana kalau aku bilang jangan?”

“Sepertinya sebuah larangan adalah hal yang harus diabaikan?”

“….”

“Inilah kenyataannya. Dan aku pun harus.”

Dan malam harus tahu. Kesaksiannya dalam sebuah perpisahan yang tak pernah diharapkan. Dia mencela dalam hati sejatinya sudah terungkap pasti. Tak akan. Tak bisa. Tak mungkin. Mereka langsung menatap di persimpangan; dengan hati yang masih menyatu.

“Semoga kaubahagia. Teruslah menulis….” Lelaki itu menangis. Dan bukan berarti lemah atau melankolis.

 

***

 

Bogor, 12 Oktober 2011

 

Di tempat yang sama, di waktu yang sama, di tanggal yang sama, di bulan yang sama, dan di sisi yang berbeda. Mereka bersama. Kali ini langit menangis. Namun, keteduhan tetap berpihak dengan rangkaian celoteh jangkrik yang berbisik. Begitupun dingin yang menusuk lalu pahatan kenangan yang membusuk. Tak pernah dia sangka—sang tokoh utama. Melakoni jati diri yang berbeda.

“Aku lupa untuk berjanji akan bertemu di sini.” Getaran giginya terlihat. Ia sedikit kedinginan. Bajunya setengah basah dengan cipratan noda genangan air di kaki dan celananya.

“Itu hal yang wajar. Semua terjadi secara mendadak bukan?”

“Entah. Kupikir hal itu benar.”

“Tentang apa?”

“Tentang perubahanku. Kau tahu? Aku menulis adalah permintaannya. Dia bilang agar aku punya uang. Sukses. Kaya. Bahagia. Memang aku tahu dengan uang aku bisa bahagia. Tapi apa bahagia hanya berupa uang? Dan satu. Kenapa dia malah pergi? Konyol!” Dia kemudian menghela napas panjang—sekali.

Pandangan mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Sang tokoh utama merasa benar-benar berbeda. 2 tahun lalu sungguh itu hanya pandangan benalu. Tak dianggap dan tak ada balasan. Bukan alasan jika kemasan rasa itu belum terbungkus dengan baik. Layaknya sebuah Negara yang tak bisa berjalan oleh bangunan-bangunan penyerap udara, atau sekedar kaca yang membentuk rumah dalam kewajaran yang berbeda. Nyata dan ada.

“Selama ini, kupikir kau gila.” Lawan bicaranya mencibir.

“Karna aku tak pernah terlihat?” balasnya dengan senyuman getir. Seperti manusia biasa. Ada rasa tersinggung menyelimuti.

“Kau sedih?”

Dia menggeleng, “Tidak. Dan sekali lagi tidak.”

“Tapi kau lemah! Saat itu kaumenangis bukan?” Alisnya terangkat bersama masa lalu yang diangkat. Desir angin yang diiringi redanya hujan tersenyum. Sayang malam. Pelangi tak terlihat.

“Aku memang lemah dan aku tidak kuat. Namun, yang kutahu kelemahanku adalah kekuatanku….”

Mereka membuat pandangan diam. Menggantungkan suara-suara yang memberikan nuansa nostalgia. Lawan bicaranya memikirkan hal yang sama.

“Aku harus pergi,” ungkapnya.

“Bagaimana kalau aku bilang jangan?”

Semua akan terjadi lagi. Sang tokoh utama frustasi.

Bogor, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s