FF ~ KAMU PEMIMPI!

“KAMU PEMIMPI!”
By : Diaz Alfi

***

Kamu hanya pemimpi yang sejatinya cuma punya mimpi. Apalah kamu? Berkoar dengan sebuah tulisan yang kamu anggap dapat berbicara. Mungkin tidak hanya itu. Kamu berpikir itu bisa membuat orang takjub dan terkesan. Lalu kamu bangga—tertawa dan senang. Banyak yang iri kepadamu. Betapa senangnya hatimu. Itu bila mimpimu terwujud. Selamat—jika terjadi.
Dan diam-diam, malam ini kamu ingin memulai mimpi itu. Sekiranya untuk besok atau nanti. Tapi terkadang kamu sadar, bahwa ternyata ada prinsip lain.
“Sebaiknya, aku jangan membunuh waktu,” pikirmu.
Kamu begitu yakin bahwa melakukan sesuatu yang mampu mewujudkan mimpimu adalah dengan cara membunuh waktu. Itu hal yang tidak kamu suka. Banyak yang tahu bahwa kamu menyukai tidur. Hei, bukankah sama saja dengan membunuh waktu? Tapi kamu diam dan beralibi, “Tidur itu sehat.”
Manakalanya kamu tertawa sejenak; berpikiran tentang kegundahan meraih asa. Kamu ingin terus hidup sedangkan hidup tak inginkan kamu. Ironis. Kamu tahu bahwa tangis adalah hasilnya. Mereka pun menertawaimu, “Pemimpi!!”
Kebaikan tak pernah dibalas oleh sesuatu yang berbeda bagimu. Kemudian hal yang buruk adalah perpecahan kecil. Bergunakah itu? Lalu bagimu, mimpimu itu adalah suatu kebaikan. Kadang kamu berpikir bijak menanggapi itu. Ada niat ada jalan. Atau ada usaha, pasti akan terwujud. Memang, kamu terlihat bersungguh-sungguh dengan usahamu. Nyaris setiap hari kamu melakukan sesuatu yang sebagai jalan untuk meraih mimpimu. Salut.

***

Ketika suatu hari, seseorang berjalan dengan lemasnya. Kamu bergurau di teras dengan duduk santai.
Kamu melihat; seketika iba. “Perlukah kutolong?” pikirmu, “Ah tidak,” putusmu.
Kamu di situ berpikir, “Mereka tak selalu menolongku. Untuk apa aku menolong?” Dari situlah seketika langit mulai menangis. Kamu percaya itu hanya hal yang wajar. Bahkan sewajar kamu mempunyai mimpi.
“Semua orang punya mimpi. Ya, aku yakin!”
Orangtuamu tahu—sangat tahu—dan hasilnya, mereka juga menertawaimu. Kasihan memang. Bibir malam sudah tahu akan selalu mengecupmu. Kamu menyukainya; malam dan alam. Mungkin yang terbaik dari segalanya. Objek yang tepat untuk mau melakukan sesuatu yang dapat mewujudkan mimpimu. Malaikat datang.
“Siap?” tanyanya.
“Untuk apa?” Kamu penasaran.
“Mimpi.”
Lalu kamu menjawab, “Aku siap dan selalu siap. Bahkan tak apa jika mimpiku tak siap.”
“Penuh semangat,” timpal satunya.
“Bukan, penuh mimpi.”
Dari situpula kamu kecewa; benar-benar kecewa. Mereka bukan malaikat. Mereka orangtuamu yang menyamar jadi malaikat. Kamu menangis. Hujan reda.

***

Taman akan selalu nyaman bagimu. Itu alasan yang terkadang jadi tumpuan semangat. Menerima pelukan hangat. Dan ah, gemas oleh rangkulan itu.
“Sedang apa?” Kutukan yang terkadang datang adalah kesepian. Namun, ada yang bertanya.
“Melihat bintang,” jawabmu.
“Kau berharap ada yang jatuh?”
“Ya. Lalu kemudian, aku berdo’a agar ada yang jatuh kembali.” Kamu tersenyum.
“Itu hal yang konyol.”
Kamu berbeda. Kamu tidak menanggapinya. Kamu terdiam. Kamu pun; menyimpan dendam. Kamu sadar tentang sesuatu. Kamu adalah pemimpi yang sejatinya cuma punya mimpi. Kamu pintar. Kamu bodoh. Sudahlah, kamu sadar akan tentang itu. Kesenangan bagimu berasal mimpi. Tak ingin sesuatu yang meleset terjadi. Kamu berpikir sesuatu. Soal kamu berpikir maka kamu ada. Kamu berpikir mimpi; maka mimpi ada dan terwujud. Malaikat tertawa.
“Bagaimana jika kubunuh saja dia?”
“Tunggu, aku belum selesai menulis!” Lalu, kamu pemimpi—pun menyesal.

***

Bangun Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s