Cerpen ~ Pisau yang Akan Tumpul

****


“Pisau yang Akan Tumpul”

Karya : Diaz Alfi

 

 

2 tahun yang lalu…

 

Mereka bukan Romeo dan Juliet, bukan Rama dan Shinta, bukan Galih dan Ratna, bukan siapa-siapa. Hanya dua remaja dengan perbedaan yang mencolok. Perbedaan jenis kelamin. Dan mereka hanya Juli dan Desta. Tapi seolah, dewi cinta merasa iri dengan mereka. Kemesraan yang tak pernah dilihatnya. Seolah dewa cinta pun tak mengiringi perjalanan dewi cinta. Relung yang nyata seolah jelas bukan ilusi semata. Namun, seolah hanya tanda bahwa mereka tidak tahu. Apa yang mereka mau? Waktu yang jauh atau beban di bahu. Karna Desta berhasil merenggut ciuman pertama dari Juli. Dan seolah oleh Juli itu disesali. Kenapa harus penyesalan datang di akhir? Padahal sebelum seseorang menyesal dia sudah mengetahui sebuah resiko dan akibat yang akan terjadi. Apakah manusiawi? Ataukah manusia memang tidak tahu diri?

“Saat kau menciumku, aku seperti tergores pisau olehmu. Kemudian memberikan sebuah luka yang mungkin akan membekas. Karna apa? Itu yang pertama kali. Aku takut itu akan melukai lelaki yang akan menikahiku.” Juli menunduk malu. Menatap kedua tangannya yang berada di atas pahanya. Desta hanya tersenyum. Memandang ke atas. Melihat bintang yang tidak ada karna terhalang oleh beberapa awan. Begitulah arti ciuman. Tidak akan terlihat seperti bintang karna ada awan yang menghalanginya, pikirnya santai.

“Kalau begitu tunggu saja sampai lukanya mengering dan sembuh,” ujar Desta kemudian sambil terus menatap ke langit.

“Kubilang akan membekas. Darimana akan sembuh? Kecuali jika ciuman yang nanti hanya akan jadi tumpul.”

“Kau bergurau? Faktanya ini hanya tentang hal kecil.” Desta terlihat tidak suka dengan tanggapan Juli yang sepertinya benar-benar menyesal. Akhirnya ditatapnya wajah Juli. Penuh harap untuk membuat Juli merasa tenang.

“Kenapa aku harus melakukannya lagi jika aku sudah melakukannya?” tanya Juli tiba-tiba. Dingin.

“Manusia memang tidak pernah merasa puas….”

“Kenapa kau menciumku? Apa kau tidak menghormatiku?” Sepertinya Juli memang tampak tak senang dengan apa yang sudah dilakukannya, meski memang dia menikmatinya. Tapi semua diluar dugaan. Desta. Lelaki remaja 17 tahun yang dia kenal sudah 1 tahun lebih ini ternyata mengambil sebuah peluang yang menjadi kelemahan perempuan. Juli hanya terus mengumpat dalam hatinya. Meski dia memang tahu bagaimana perasaannya kepada Lelaki yang lebih tua 1 tahun darinya itu.

“Kalau tidak? Apa kau akan menghormatiku sebagai lelaki atau bukan lelaki? Hei, lupakan.” Desta memalingkan wajahnya. Rasa kesal Juli terlihat menulari hatinya.

“Oh… Baiklah… Malam ini cukup baik. Aku ingin pulang.”

“Lalu?”

“Selesai.”

“Secepat itu?”

“Kau tidak mengerti! Bayangkan jika semua tubuhku aku berikan. Lalu aku harus bertahan denganmu? Untuk apa? Jika kita menikah. Untuk apa? Sementara kita sudah melakukannya. Dan jika kita akhiri ini. Apa aku ini hanya akan menjadi sebuah pisau yang tumpul?”

“Karna memang selanjutnya kau akan digunakan terus. Seperti itulah pisau. Hingga akhirnya tumpul.” Desta bangkit. Seperempat malam kini sudah hadir. Sekedar menyambut akan hadirnya takdir untuk dinikmati sesaat. Jalan pintas? Desta hanya akan merasa itu yang terjadi.

“Kau memanggap wanita adalah pisau?” Dengan nada kesal. Juli bertanya.

“Yeah. Mereka tajam. Tapi….” Desta tidak menyelesaikan jawabannya.

“Apa?”

“Mereka sulit untuk diasah.”

“Kau gila!”

“Jadi apa?”

“Tinggalkan aku sendiri!”

“Untuk apa? Kalau kau menganggap menikah hanya untuk melakukannya. Untuk apa menikah jika kita melakukannya sekarang? Dan untuk apa aku membawamu ke sini? Haha!”

Saat itulah rembulan tertutupi awan. Jam 9 malam. Langit mendung bersama tiupan angin sedang. Sesekali Juli merasa kedinginan. Dia ingin pulang, meskipun ingin sendiri dahulu di bangku taman yang keadaan tamannya pun mulai sepi. Karna mungkin hujan akan turun. Namun, tiba-tiba Desta mendekapnya dengan erat. Desta merencanakannya. Juli pun akhirnya pingsan karna ada obat bius di sapu tangan yang ia gunakan untuk mendekap Juli. Juli pingsan. Hujan turun seketika.

 

***

 

Hangat. Itu yang dirasakan Juli ketika ia terbangun sembari diiringi suara petir. Getir. Rasa heran dan kecewa melanda hatinya. Menatap ruangan yang berwarna putih akibat warna lampunya. Seperti kamar, yang begitu asing baginya. Tapi tidak terkecuali orang yang ada di sampingnya yang masih tertidur pulas.

Juli mendesah kesal. Tubuhnya pun hanya ditutupi selimut pendek. Sialnya hanya bagian badannya saja. Susah dicerna kenapa Juli tak menyadari kenapa ia bisa melakukannya sedangkan dia saja tidak ingat apakah dia melakukannya apa tidak. Sejenak ia hanya termenung. Menunggu keajaiban yang mungkin menghampirinya. Tapi kapan akan datang jika ‘tidak akan datang’?

“Busuk!!!”

Kebodohan Desta akhirnya dimanfaatkan Juli untuk kabur dan melaporkannya ke pihak yang berwajib meski dia bingung karna ternyata rumah eksekusi Desta berada di tengah kebun yang sedikit penghuninya. Mungkin perkampungan pikirnya yang terus berlari mencari pemukiman yang padat.

 

***

 

Dan kini….

 

Dan kini malam itu terulang 2 tahun silam. Tapi Juli hanya mengulanginya lewat kenangan. Kenangan buruk yang tak pernah ia harapkan terulang. Apa yang buruk jika memang seharusnya berakhir busuk. Sementara semuanya berjalan normal. Apalagi kini tak lagi ia tinggal di panti asuhan. Bersama keluarga baru yang mungkin sedikit menghilangkan kebusukan yang dulu menempel di dirinya. Atau mungkin awan masih ada untuk tetap menutupi bintang-bintang? Namun, dia hanya berharap masih. Meski Aladas. Seorang adik barunya itu. Ia ceritakan semuanya.

“Jadi begitu?” Aladas membenarkan posisi duduknya.

“Yeah. Aku harap Ayah tidak akan tahu soal ini, As.” Juli menjawab sambil menatap Aladas penuh harap.

“Aku juga berharap seperti itu. Tapi, bagaimana dengan suamimu nanti, Kak? Dia pasti akan tahu bukan?”

“Untuk apa kaubertanya itu? Bukan urusanmu.”

Aladas menekukkan bibirnya. Merasa kesal dengan jawaban yang diberikan Kakak angkatnya itu.

“Mungkin berpacaran adalah hal yang terburuk, As. Kuharap jangan kau lakukan.”

“Kenapa?”

“Entahlah, mungkin kau akan seperti Desta haha.” Juli tertawa seketika, meskipun itu terpaksa.

“Itu… Tidak… Mungkin terjadi…,” sahut Aladas sedikit menekankan maksudnya.

Juli mengangkat alisnya dan berhenti tertawa.

“Tapi bagaimana dengan menikah yang berpacaran terlebih dahulu? Aku rasa banyak yang berhasil melalui berpacaran.” Kemudian Aladas melanjutkan pembicaraannya dengan pertanyaan yang membingungkan Juli.

“Entahlah, As. Sudahlah. Bukankah niatmu ke sini hanya ingin mengambil bukumu yang kupinjam?”

“Ah, ya sudah.”

“Yeah, selamat malam, As. Aku ingin tidur.”

“Yeah, aku pun ingin belajar.”

Sejenak Juli terdiam sambil duduk di atas kasur. Lampu yang berwarna putih di kamar barunya sedikit membuatnya terus mengingat kejadian 2 tahun silam. Karna sebelumnya di panti asuhan lampu kamarnya berwarna kuning. Lalu apalagi jika malam mendung atau hujan. Itu terus mengingatkan Juli akan kejadian itu. Kembali dia mengingat-ngingat. Kemudian merasakan dia adalah pisau, yang sudah digunakan dan mungkin akan tumpul suatu saat.

“Ah, tapi aku belum tumpul….”

 

Bogor, September 2012

pisau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s