Cerpen ~ Anggur

“Anggur”

Karya: Diaz Alfi

***

 

“Apa benar dugaanku?”

“….”

“Kenapa kau menyembunyikannya?”

“….”

“Oh ya, kau benar. Aku pun seperti itu.”

Sudah mulai sepi. Dari 13 meja yang tadi penuh terisi. Kini hanya meninggalkan bekas jejak kaki. Jejak tangan, bokong, atau pun jejak punggung. Belum setengah jam terambil waktu. 12 meja sudah kosong. Yang tadi suara dibisingi oleh obrolan-obrolan hangat. Kini sudah mulai sekarat. Hanya tersisa suara dari decitan piring yang sedang dicuci. Pintu yang dari tadi terus dibuka-tutup. Suara pekerjaan pelayan yang sedang membersihkan meja-meja yang sudah kosong. Dan terakhir, suara rintik hujan yang mulai mengecil. Hujan mulai reda.

“Maaf, Tuan. Apa anda masih ingin di sini?”  Dia itu menoleh. Setelah mendengar sebuah  pertanyaan dari seorang pelayan yang sudah menghampiri mejanya.

“Hujan sudah tidak ada?”

“Hanya mereda.”

“Kau bisa mendengarku?”

“Tentu saja, Tuan.”

 

Dia terdiam sambil memalingkan wajah. Matanya tetap fokus kepada satu arah. Tapi sayangnya arahnya tak memiliki arti. Si pelayan pun hanya kebingungan. Café sudah akan tutup. Tapi si Pelayan bingung untuk mengatakannya. Karna jika dikatakan. Maka hal itu pun akan terjadi lagi.

“Maaf, Tuan. Kau tahu sekarang sudah pukul berapa?”

Dia kembali menoleh. Dan menatap si Pelayan.

 

***

 

Sudah hampir petang. Dan awan mendung sudah hampir tiba. Beberapa pelayan sibuk mempersiapkan kopi-kopi yang dipesan para pengunjung. Hampir setiap meja memesan kopi dan susu hangat. Namun tidak dengan salah satu pengunjung yang kerap datang ke café tersebut.

“Semua pesan kopi. Lalu susu hangat.”

“Aku tahu.”

“Dan siapkan satu botol anggur.”

“Ini pun aku juga tahu.”

Kedua pelayan itu kemudian mengambil beberapa pesanan yang sudah disiapkan. Pelayan yang berbadan gemuk itu mengambil kopi. Tapi pelayan yang berbadan kurus mengambil sebotol anggur. Itu sudah jadi tugas barunya selama seminggu, setiap pukul 3 petang.

“Kalau aku jadi kau, aku akan berhenti.” Si Pelayan gemuk itu menoleh ke belakang sambil berhenti.   Menatap si Pelayan kurus yang masih terdiam sambil memegang sebotol anggur.

“Tapi aku belum pernah terluka sedikit pun.”

“Apa setidaknya kau merasa trauma? Setiap sore dia hampir membunuhmu.”

“Seharusnya pertanyaan itu kau berikan padanya. Kenapa dia tidak merasa trauma setelah dipukuli oleh pihak keamanan? Dan lalu selalu kemari lagi. Sampai akhirnya kita wajari kedatangannya.” Mereka berdua pun hanya berdiam.

“Aku ingin sekali tahu apa penyebabnya.”

Si Pelayan kurus menghela napas.

“Jika kau bertanya kenapa anggurnya tidak diminum sedikitpun. Maka dia akan membunuhmu,” jawab si Pelayan kurus meyakinkan.

Mereka berdua kembali terdiam. Sampai akhirnya si Pelayan gemuk berjalan menuju meja-meja para pengunjung. Disusul dengan si Pelayan kurus dengan ragu-ragu.

 

***

 

Sudah genap seminggu dia selalu datang menuju café itu. Dengan beberapa luka di wajah yang belum menghilang. Melebam. Hingga terkadang, dia sulit berbicara. Hanya bisa terdiam. Sebelumnya, dia tak pernah datang ke café dekat pemakaman di ujung jalan itu. Namun, dengan dalih ingin meminum sebotol anggur kesukaannya, dia selalu ke café itu setiap sore, selepas ia pulang bekerja. Padahal, di dekat rumah atau kantor tempat dia bekerja. Banyak sekali kedai minuman dan beberapa café. Tapi anehnya, dia lebih memilih ke café itu.

“Aku datang lagi.” Di meja 12. Dekat jendela café. Dia selalu memilih meja itu. Yang beruntungnya meja itu selalu kosong. Setelah kedatangannya yang pertama kali hingga ke tujuh kali. Para pelayan dan petugas keamanan selalu memperhatikannya. Meskipun seperti itu. Dia selalu tetap diperbolehkan kembali datang. Meski memang para penghuni café itu sedikit risih.

“Kali ini aku tidak bekerja. Ini hari minggu. Tapi seharian tadi aku ke Bank. Dan kau tidak ada di sana. Ya. Mungkin kau memang selalu di sini.”

Setelah itu. Dia memanggil pelayan dan memesan sebotol Anggur.

“Ini kesukaanku. Aku tidak bisa lepas dari ini. Aku tahu meskipun ini sudah jadi minuman, tetapi tetap saja ini Anggur,” jelasnya sedikit tersenyum dan masih merasa bersalah.

“Hari ini hujan. Kau begitu menyukainya kan? Sudah hampir seminggu tidak turun hujan.”

Dia menghela napas sesaat. Dia kembali ingat.

“Tapi aku membencinya. Dan kau tidak pernah tahu itu. Tapi aku selalu berusaha menemanimu jika ingin berhujan-hujanan di luar sana jika hujan di akhir pekan.”

Di sela-sela itu, seorang Pelayan bertubuh kurus menghampirinya dengan membawa sebotol anggur. Dengan tangan gemetar. Si Pelayan kurus itu memberikan botol itu.

“Terima kasih. Kau suka anggur?” Pertanyaan itu kembali dipertanyakan kepada si Pelayan kurus itu. Dengan masih gemetar, si Pelayan kurus mengangguk.

“Ya, aku tahu semua orang suka itu. Tapi aku tidak tahu kenapa dia tidak suka.”

Sambil menelan ludah. Si Pelayan kurus mengernyit. Biasanya dia hanya menjawab, ‘ya, aku tahu semua orang suka itu’. Tapi kali ini ada yang dia tambahkan.

“Apa dia itu membenci anggur?” Si Pelayan kurus mulai memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku tidak tahu. Yang jelas dia selalu menjauhinya.”

“Alergi?”

Dia terdiam. Jika memang benar. Sebenarnya dia selalu memikirkan kemungkinan itu, namun kenapa hal itu tidak pernah diberitahukan kepadanya.

“Jadi, selamat menikmati, Tuan.” Tanpa ingin mengulangi hal yang biasa terjadi. Si Pelayan kurus itu pun akhirnya memutuskan untuk berlalu.

 

 

***

Dia selalu mempertanyakan sebuah pertanyaan. Selama 2 jam tanpa henti. Hingga akhirnya.

“Apa benar dugaanku?”

“….”

“Kenapa kau menyembunyikannya?”

“….”

“Oh ya, kau benar. Aku pun seperti itu.”

Sudah mulai sepi. Dari 13 meja yang tadi penuh terisi. Kini hanya meninggalkan bekas jejak kaki. Jejak tangan, bokong, atau pun jejak punggung. Belum setengah jam terambil waktu. 12 meja sudah kosong. Yang tadi suara dibisingi oleh obrolan-obrolan hangat. Kini sudah mulai sekarat. Hanya tersisa suara dari decitan piring yang sedang dicuci. Pintu yang dari tadi terus dibuka-tutup. Suara pekerjaan pelayan yang sedang membersihkan meja-meja yang sudah kosong. Dan terakhir, suara rintik hujan yang mulai mengecil. Hujan mulai reda.

“Maaf, Tuan. Apa anda masih ingin di sini?”  Dia itu menoleh. Setelah mendengar sebuah  pertanyaan dari seorang pelayan yang sudah menghampiri mejanya.

“Hujan sudah tidak ada?”

“Hanya mereda.”

Dia terdiam sambil memalingkan wajah. Matanya tetap fokus kepada satu arah. Tapi sayangnya arahnya tak memiliki arti. Si pelayan pun hanya kebingungan. Café sudah akan tutup. Tapi si Pelayan bingung untuk mengatakannya. Karna jika dikatakan. Maka hal itu pun akan terjadi lagi.

“Maaf, Tuan. Kau tahu sekarang sudah pukul berapa?”

Dia kembali menoleh. Dan menatap si Pelayan.

Dia heran dengan Pelayan yang menghampirinya. Berbeda. Kali ini tubuhnya gemuk. Memang baru 1 minggu dia selalu datang ke café itu. Tapi, dia hapal dengan 1 orang Pelayan yang entah kenapa selalu melayaninya untuk membawakan sebotol anggur.

“Kau sudah 2 jam di sini tanpa meminum pesananmu. Mengapa?”

Tapi, ada yang sama dengan Pelayan yang sebelumnya. Yaitu menanyakan kenapa dia tidak meminum anggurnya.

“Jika kau menyukai sesuatu. Lalu seseorang yang mencintaimu membencinya. Apa keputusanmu?”

Si Pelayan yang gemuk itu mengernyit. Berpikir sesaat dan teringat.

“Membuat seseorang yang mencintaiku menyukainya.”

“Jika itu mustahil?”

“Aku selalu suka hal yang mustahil, Tuan.”

Dia memandang jendela kembali. Sedetik kemudian, dia mengambil botol dan mulai melayangkannya yang diarahkan menuju kepala si Pelayan gemuk. Seperti biasanya.

“Apa membunuhnya itu termasuk hal yang mustahil????”

 

 

19 September 1909

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s