Cerpen ~ Paman

“Paman”

 

Karya: Diaz Alfi

 

***

 

Aku bangga dengan Pamanku. Dia pria yang baik, ramah, sopan, kadang tegas meskipun masih terasa lembut. Dia juga pintar, pekerjaannya pun adalah seorang PNS. Selain itu, dia masih terlalu muda untuk bekerja sebagai PNS dan kupanggil ‘Paman’. Ah, dari kesempurnaan Pamanku, kenapa dia belum menikah juga? Selain mapan, tampan, dan sopan. Dia pun mengerti ilmu agama. Ah, benar-benar.

“Kenapa Paman tidak bekerja?” tanyaku pada Pamanku di teras. Dia sedang asyik minum kopi sembari membaca koran. Pamanku hanya menatapku. Lalu kemudian, aku menghampirinya yang tadi berdiri di ambang pintu.

“Kau sendiri tidak ke toko?”

“Ada Fitri di sana. Kupikir dia bisa sendiri.”

“Oh. Apa kau tidak berpikir untuk gulung tikar?” Mata Pamanku masih terus menatap Koran. Mungkin membacanya. Mungkin juga tidak. Dan aku hanya diam.

“Bagaimana?” tanya Pamanku lagi, memastikan.

“Hmm, apa benar menurut Paman? Sudah banyak yang tidak suka membaca?”

“Sekarang aku tanya padamu. Apakah toko bukumu selalu ramai? Kalau tidak gulung tikar. Ganti saja dengan usaha toko Al-qur’an. Lebih baik itu.” Aku lagi-lagi hanya diam. Sesekali menghela napas.

“Paman tidak bekerja. Ada urusan. Kau jaga rumah saja jika tidak ke Toko,” tutup Pamanku sembari menyeruput kopinya. Kemudian bangkit dan lalu masuk ke dalam. Ah, lagi-lagi tidak bekerja dan ada urusan. Kupikir sayang pekerjaannya sebagai PNS itu.

 

***

 

“Assalammualaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Paman darimana?” Pertanyaanku dihiraukan Paman yang tadi baru saja keluar rumah tepat jam Sembilan pagi. Dan baru saja pulang jam setengah sebelas. Aku berpikir dia buru-buru, karna menghiraukanku.

Aku bangkit dan berusaha menagih jawabannya.

“Bagaimana?” tanyaku kali ini, memastikan.

“Tadi Paman dari masjid. Biasa itu ada tausiyah minggu depan.”

“Oh, begitu.” Mendengar jawaban Pamanku, aku langsung diam. Ya sudah cukup puas karna memang menurutku itu benar. Pamanku memang aktif dalam organisasi masjid di dekat rumahku. Tak heran kadang dia menjadi imam, meskipun masih cukup muda.

Ya, aku cukup mengerti. Ilmu agamanya pun cukup tinggi. Setidaknya itu yang membuatku sampai sekarang masih mengerti tentang agama meskipun tanpa ajaran kedua orangtuaku yang sudah meninggal sejak lima tahun lalu.

Aku patuh kepadanya. Dan patuh juga kepada agamaku.

 

***

 

Setelah Pamanku kembali pergi lagi. Fitri menelponku. Memang aku mengerti karna sudah siang. Mungkin dia ingin istirahat atau bergantian denganku menjaga toko.

“Assalammualaikum, Kak. Tadi Paman menemuiku,” ujar Fitri cukup to the point.

“Wa’alaikumsalam. Memangnya ada apa?”

“Mmm, aku lupa.” Aku menghela napas panjang. Penyakit lupa adikku ini masih saja dipelihara.

“Dia membawa handphone?”

“Sepertinya tidak. Maka dari itu dia menemuiku.”

“Ya memangnya ada apa? Lalu, memang dia mau kemana?”

“Aku tidak tahu. Tapi dia tadi bersama temannya. Menggunakan mobil.”

Aku diam, dan sedikit berpikir. Ah, berpikir untuk apa?

“Oh ya, Kak. Aku ingat. Dia menyuruhmu membeli makanan di warung.”

“Bukankah tadi kau sudah memasak?”

“Oh iya. Tapi, Kak. Bukankah kau juga selalu patuh kepadanya? Sudah lakukan saja!”

“Ah, iya-iya!”

 

***

 

Suara ledakan! Bum!

Baru saja aku selesai membeli makanan di warung makan Bu Sarti, selepas dzuhur. Kemudian terganggu dengan rasa kaget karena suara ledakan, yang aku yakin itu adalah suara ledakan bom. Ya ledakan bom.

Aku terdiam sejenak. Mencerna segala yang kuingat tentang apa yang harus kulakukan. Namun, berbeda dengan apa yang terlihat. Kurasakan semilir angin mulai bergerak menjauh dari suara ledakan. Dan asap! Asap telah menyelimuti setengah langit. Hei, tapi kenapa aku hanya bisa diam saja?

Baru ingat setelah beberapa detik terlalui. Aku seperti mengenal darimana asal suara ledakan tadi. Bila yang aku lihat kebanyakan orang-orang mendekati suara ledakan. Ada dua orang yang menjauh, mereka berlari seperti orang ketakutan dikejar-kejar massa. Padahal kurasa, tak ada yang mengejar mereka. Sempat heran tapi kuhiraukan saja, karna memang penasaran dengan ledakan tadi.

Mulai kulahap langkah kaki kecilku ini. Berbeda dengan orang lain yang berlari. Bodoh sekali aku ini. Lagi-lagi baru ingat.

“Paman???” aku terduduk lemas menatap rumah-rumah yang sudah hancur lebur. Dan salah satunya adalah rumah Pamanku.

 

***

 

Aku duduk di kursi ruang tamu, di rumah Pak RT. Dan aku pun ditatap puluhan massa, atau mungkin lebih. Mereka semua sedang menunggu aku berbicara. Menungguku untuk mengatakan sesuatu tentang ledakan tadi siang. Sial. Tapi kenapa aku hanya diam saja sekarang?

Mereka menungguku karna ingin tahu. Kenapa ledakan tadi siang berasal dari rumah Paman. Sedangkan aku tahu, itu tidak mungkin berasal dari tabung gas milik Pamanku. Mereka mengira itu adalah bom. Ya, ledakan bom. Dan aku pun sepertinya mengira hal yang sama.

“Aku yakin pelakunya dia! Atau Pamannya!” Begitulah yang dari tadi mereka katakan. Dan mungkin mereka pikirkan juga.

“Ya. Aku yakin! Kalau ada terorisme di sekitar kita. Biasanya pelakunya adalah orang yang kita kenal baik, tertutup, juga alim!”

Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar salah satu hujatan mereka. Ah benarkah? Rasanya kepingin tertawa ngakak seperti sedang menonton lawakannya Sule dan kawan-kawan. Memangnya Pamanku meledakkan Gedung? Gereja? Panti Asuhan? Atau memang selanjutnya?

“Maaf-maaf. Aku lupa. Lupa meledakkan bomnya. Malah di rumahku sendiri.” Mendengar itu, aku langsung menoleh, mencari asal suara dan ternyata Pamanku yang baru saja datang dengan terengah-engah.(*)

 

 

 

12 September 2012

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s